Menurut laporan World Resources Institute sebagaimana dilansir pada Daily Mail (3/10/2014), rangking Indonesia sebagai negara penghasil emisi karbon (CO2) tertinggi dunia di bawah China, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, dan Rusia. Total emisi karbon yang dihasilkan Indonesia adalah 2,05 miliar ton.

World Resources Institute membuat laporan tentang emisi karbondioksida (CO2) negara-negara di dunia sejak tahun 1850 hingga 2011 melalui sebuah peta interaktif. Dari peta interaktif tersebut terlihat emisi gas rumah kaca di dunia mengalami perubahan drastis selama 160 tahun terakhir.

TOP 10 WORLDWIDE EMITTERS OF CARBON DIOXIDE AS OF 2011
(Seluruh Dunia : 45,914 miliar ton)

  1. China : 10,26 miliar ton
  2. US : 6,135 miliar ton
  3. EU : 4,263 miliar ton
  4. India : 2,358 miliar ton
  5. Rusia : 2,217 miliar ton
  6. Indonesia : 2,053 miliar ton
  7. Brazil : 1,419 miliar ton
  8. Jepang : 1,17 miliar ton
  9. Canada : 847 million ton
  10. Jerman : 806 million ton

Emisi karbon sendiri yakni, berasal dari aktivitas yang mengeluarkan gas seperti karbon dioksida dan metana ke atmosfir. Gas ini, yang juga dikenal dengan sebutan gas rumah hijau, mengubah lingkungan menjadi lebih buruk karena perubahan iklim. Seperti halnya, Anda mengemudi, membeli makanan yang tidak ditanam di kebun atau pertanian lokal, atau membiarkan lampu rumah menyala ketika di luar, Anda meningkatkan emisi karbon di udara.

Untuk hal tersebut perlu adanya upaya pengurangan emisi karbon, dalam lingkup Nasional Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro tak ragu menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki komitmen kuat dalam pengurangan emisi karbon. Menurut Bambang, target pengurangan emisi karbon sudah masuk dalam target jangka pendek yang tertuang dalam RPJM 2015-2019.

Namun menurutnya upaya pengurangan emisi karbon tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Program itu harus terintegrasi dengan aspek lain yang memengaruhinya seperti tingkat kesejahteraan masyarakat dan juga infrastruktur. Bambang menjelaskan bahwa selama ini banyak masyarakat Indonesia yang masih bergantung pada eksploitasi sumber daya alam dan hasil hutan.

Kebanyakan dari mereka masih hidup dalam kemiskinan. Selain itu masalah infrastruktur energi terbarukan yang belum memadai juga jadi kendala. Untuk memenuhi kebutuhan energi, baik untuk listrik maupun transportasi, masyarakat Indonesia masih tergantung pada sumber energi fosil.

Jika hanya memikirkan target pengurangan emisi, tentu akan memberikan ketimpangan pada sisi infrastruktur dan kesejahteraan. Oleh karena itu Bambang menegaskan, dalam perspektif Bappenas, hal yang menjadi kunci keberhasilan adalah tetap menjaga keseimbangan antara tiga hal tersebut.

Dalam lingkup global, bahwa program lingkungan hidup PBB menyatakan hari Selasa negara-negara dan kalangan industri perlu berupaya lebih keras lagi untuk memenuhi sasaran pengurangan emisi dan gas-gas rumah kaca yang menurut para pakar berkontribusi terhadap pemanasan global.

Dalam laporan terbarunya yang berjudul “Kesenjangan Emisi” yang diterbitkan sebelum penyelenggaraan konferensi iklim yang penting di Jerman pekan depan, program ini membidik pusat-pusat pembangkit tenaga listrik bertenaga batu bara yang dibangun di negara-negara berkembang dan mengatakan investasi pada energi terbarukan pada akhirnya akan dapat menutupi modal yang telah dikeluarkan – dan bahkan menghasilkan pemasukan – dalam jangka panjang.

Laporan yang diterbitkan pada hari Selasa muncul saat para pejabat PBB memperbaharui upaya untuk mendorong untuk menjaga momentum yang dihasilkan kesepakatan iklim Paris pada tahun 2015.

“Kesepakatan Paris mendorong tindakan terkait perubahan iklim, namun jelas-jelas momentumnya semakin melemah,” ujar Edgar Gutierrez – Espeleta, menteri lingkungan hidup Costa Rica yang memimpin Dewan Lingkungan Hidup PBB 2017. “Kami menghadapi pilihan yang apa adanya: tingkatkan ambisi kami, atau tanggung konsekuensinya.”

Dalam kesimpulan yang dicantumkan dalam laporan itu, UNEP menyatakan tren yang ada saat ini menunjukkan bahkan apabila komitmen nasional yang ada saat ini dapat tercapai, peningkatan temperatur sebesar 3 derajat Celsius di akhir abad ini “sangat mungkin – yang maknanya pemerintah harus berusaha lebih serius lagi saat komitmen tersebut direvisi pada tahun 2020.”

Sumber: : https://www.voaindonesia.com/a/badan-lingkungan-hidup-pbb-desak-hidupkan-kembali-upaya-untuk-kurangi-emisi/4095076.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *