Indonesia merupakan negara maritim, yang mana 2/3 wilayah Indonesia merupakan lautan yang kaya akan sumber daya alam, antara lain pertambangan, perikanan, dan pariwisata sehingga perlu pengelolaan yang terintegrasi. Indonesia sudah mendeklarasikan diri untuk memperkuat tol laut nasional dan menjadi poros maritim dunia (Zaman, 2019). Untuk melakukan kegiatan di perairan, tentu membutuhkan transportasi laut, yaitu kapal. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim, pencemaran lingkungan yang bersumber dari kapal dapat berupa minyak, bahan cair beracun, muatan bahan berbahaya dalam bentuk kemasan, kotoran, sampah, udara, air balas, dan/atau barang dan bahan berbahaya bagi lingkungan yang ada di kapal.

AIR BALAS

Air balas merupakan salah satu limbah yang dihasilkan oleh aktifitas perkapalan. Air balas (ballast water) merupakan air laut yang dipompa menuju tangki di lambung bagian bawah kapal sebagai pemberat untuk memastikan stabilitas kapal, menjaga kemiringan kapal, menggantikan beban dari muatan kapal saat bongkar muat, dan menjaga baling-baling agar tetap berada di dalam air (Rozak dkk dalam Yuda dkk, 2013).

AIR BALAS MENGANDUNG LOGAM BERAT?

Air balas yang dibawa suatu kapal dapat membawa logam berat dari lingkungan perairan asal dan dibuang di lingkungan yang baru. Logam berat timbal (Pb) yang ada di perairan akan turun dan mengendap di dasar perairan. Logam berat tidak dapat dihancurkan dan akan terakumulasi dalam perairan sehingga membentuk endapan. Akibatnya, organisme yang mencari makan di dasar perairan memiliki risiko besar terpapar logam berat tersebut. Jika biota laut yang mengonsumsi logam berat tersebut dikonsumsi oleh manusia, tentu akan menimbulkan masalah kesehatan pada manusia yang mengonsumsi biota tersebut. Akibat dari mengonsumsi timbal bagi manusia yaitu dapat memperpendek sel darah merah, menurunnya kemampuan belajar, bahkan membuat anak-anak bersifat hiperakif. Selain itu, timbal juga mempengaruhi sistem saraf manusia, ginjal, jantung, sistem reproduksi, dan sistem endokrin (Anisyah dkk, 2016).

APA ITU INVASIVE MARINE SPECIES?

Selain logam berat, air balas juga membawa spesies asing. Saat diambil dari perairan sekitar (ballasting), diperkirakan air balas mengandung ribuan jenis spesies seperti bakteri, mikroba, ubur-ubur, larva, telur hewan, serta bentuk hewan-hewan akuatik yang berukuran lebih besar yang dapat menyebabkan masalah bagi lingkungan laut, kesehatan manusia, dan ekonomi kelautan yang bergantung pada ekosistem laut yang sehat. Spesies laut yang invasif (invasive marine species) adalah salah satu ancaman kerusakan lingkungan.

PENGOLAHAN AIR BALAS

Aktifitas pertukaran air balas dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan tempat air balas dibuang. Masalah pertukaran air balas ini mendapat perhatian khusus dari IMO (International Maritime Organization) dengan mengeluarkan peraturan yang mengharuskan air balas yang dikeluarkan kapal dalam kondisi bersih. Standar D-1 (Ballast Water Exchange) dilakukan dengan membilas air balas sebanyak 3 kali di laut yang berjarak lebih dari 200 nautical mile dari pantai dengan kedalaman lebih dari 200 meter. Tetapi metode ini terdapat beberapa kelemahan, yaitu sedimen dan residu dari dasar tangki balas sulit dihilangkan, organisme yang menempel pada tangki balas tidak bisa dikeluarkan, dan tidak bisa melakukan pembilasan jika terjadi badai atau ombak besar selama pelayaran. Standar yang lain adalah Standar D-2 (Ballast Water Treatment) yang mensyaratkan adanya treatment bagi air balas yang mengandung lebih dari 10 mikroorganisme per meter kubik yang berukuran lebih dari atau sama dengan 50 mikron.

Teknologi AOT (Advanced Oxidation Technology) merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk mengolah air balas. Teknologi AOT menggunakan Titanium Dioxide Catalyst yang menghasilkan radikal ketika terkena sinar. Radikal ini berfungsi untuk membunuh membran sel mikroorganisme. Ketika membuang air balas (deballasting), air dari tangki balas dialirkan melalui Wallenius AOT sehingga air balas bebas dari mikroorganisme.

DAFTAR PUSTAKA

Anisyah, dkk. 2016. “Studi Kandungan dan Beban Pencemaran Logam Timbal (Pb) pada Air Balas Kapal Barang dan Penumpang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang”. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Volume 4, Nomor 4, Halaman 844.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim.

Yuda, dkk. 2013. “ECOGREENSHIP – Konsep Waterballast Treatment Memanfaatkan Gas Inert Temperatur Tinggi dari Gas Buang Mesin Induk untuk Mengurangi Mikroorganisme Air Ballast pada Kapal”. Jurnal Teknik. Volume 2, Nomor 1, Halaman 1.

Zaman, M. Badrus. 2019. Prospek Industri Maritim di Era Revolusi Industri 4.0. (Online) https://nasional.sindonews.com/read/1369231/18/prospek-industri-maritim-di-era-revolusi-industri-40-1547064558 diakses pada 17 Februari 2019.

By :
Salsabila Azmi Loetfi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *