Bahaya Mikroplastik Bagi Lingkungan

Apa Itu Plastik ?

Saat mendengar kata Plastik pasti yang terbenam dalam pikiran kita adalah sebuah mainan, atau bisa juga sebuah kursi hajatan atau bahkan sebuah kantong belanja disupermarket . Yups betul itu merupakan beberapa contoh dari penerapan material plastik.

Tapi apa sih sebenarnya plastik itu ? lastik merupakan bahan yang terbentuk dari produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik yang mempunyai sifat-sifat unik dan luar biasa. Polimer sendiri adalah adalah rantai berulang dari atom yang panjang, terbentuk dari pengikat yang berupa molekul identik yang disebut monomer. Bahan baku pembuatan plastik adalah minyak dan gas sebagai sumber alami.

Apa Itu Mikroplastik ?

Akhir akhir ini sering kita  dengar mengenai isu isu yang berkaitan dengan Mikroplastik, istilah ini memanglah sesuatu yang baru dan asing ditelinga kita. Banyak yang tidak mengetahui apa sih sebenarnya Mikroplastik itu ?

Mikroplastik merupakan partikel plastik yang diameternya berukuran kurang dari 5 mm. Batas bawah ukuran partikel yang termasuk dalam kelompok mikroplastik belum didefinisikan secara pasti namun kebanyakan penelitian mengambil objek partikel dengan ukuran minimal 330 μm3.

Sumber Mikroplastik

1. Mikroplastik Primer

Mikroplastik primer adalah plastik yang langsung dilepaskan ke lingkungan dalam bentuk partikel kecil, yang berasal dari produk–produk yang mengandung partikel plastik (misalnya gel mandi), juga dapat berasal dari proses degradasi benda plastik besar selama proses pembuatan, penggunaan atau perawatan seperti erosi ban atau degradasi tekstil sintetis saat mencuci

2. Mikroplastik  Sekunder

Mikroplastik sekunder adalah mikroplastik yang berasal dari degradasi barang plastik yang lebih besar menjadi fragmen plastik yang lebih kecil setelah terkena lingkungan laut, hal ini terjadi melalui proses fotodegradasi dan proses pelapukan limbah lainnya seperti kantong plastik yang dibuang atau seperti jaring ikan.

Bahaya Mikroplastik

dilansir dari mongbay.co.id Ecoton telah melakukan penelitian kandungan mikroplastik pada lambung 132 ikan di Sungai Brantas, 2018 lalu. Berdasarkan riset tersebut, 80 persen lambung ikan mengandung mikroplastik. Akibatnya, ikan menjadi interseksual atau memiliki jenis kelamin tidak menentu karena adanya Endrocine-Disrupting Chemicals [EDC] yang mengganggu sistem hormon. EDC mengganggu pembuahan ikan yang berlangsung eksternal. Dengan adanya kandungan mikroplastik dalam tubuh ikan, apabila dikonsumsi oleh manusia dikhawatirkan mikroplastik tersebut akan ikut masuk kedalam tubuh manusia.

selain melakukan penelitian kandungan mikroplastik pada lambung ikan, Ecoton juga melakukan penelitian pada feses manusia.

Total 40 feses [kotoran manusia] yang diteliti, dari target 100 sampel. Dengan bantuan kawan-kawan Navicula dan Koalisi Pulau Plastik, sampel-sampel itu diperoleh dari partisipan berbagai kota di Jawa dan Bali.

Hasilnya menunjukkan, tak satu pun sampel luput dari kontaminasi mikroplastik. Bentuknya bermacam, ada fragmen, filamen, fiber, dan granula. Dalam 10 gram feses, atau bila digambarkan setara dengan ukuran ibu jari, jumlahnya berkisar 2 hingga 15 partikel per milimeter.

“Mikroplastik berasal dari mana saja. Kosmetik, minuman atau makanan kemasan, cat, roda kendaraan, bahkan pakaian,” jelas Andreas, peneliti Ecoton.

Mikroplastik bersifat layaknya transporter, memiliki kecenderungan mengikat bahan-bahan lain seperti limbah, logam berat, deterjen, pestisida, dan racun.

“Ketika masuk tubuh, akan menyumbang chemical plastiknya sendiri, juga akan melepaskan penumpang-penumpang yang dibawa. Itu semua akan diserap tubuh, sementara fisik mikroplastik akan keluar melalui feses karena tidak tercerna,” terangnya.

Dari beberapa penelitian diatas kita dapat memahami bahwa betapa berbahayanya mikroplastik baik terhadap lingkungan maupun terhadap manusia sendiri, meskipun masih diperlukan pengkajian serta penelitian lebih lanjut, nampaknya ancaman dari mikroplastik ini sangat nyata, mengingat banyaknya sampah sampah plastik yang meningkat tinggi tiap tahunnya.

semoga dari artikel ini dapat menambah wawasan serta meningkatkan kesadaran kita semua agar lebih bijak lagi dalam menggunakan plastik.

Be the first to comment

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*