Limbah Medis COVID-19 Mengancam Indonesia

Covid-19 atau virus corona merupakan virus yang memiliki kemampuan penyebaran yang begitu luar biasa cepatnya. Karena penyebaran virus ini dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Penularan dapat terjadi apabila terpapar droplet dari penderita virus ini. Saat ini pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin memutus mata rantai penyebaran virus corona. Namun selain mempersempit penularan virus corona ada hal yang lebih penting lagi selain memutus mata rantai penyebaran virus. Yaitu ancaman Limbah Medis COVID-19. Sudah siapkah indonesia ?

Limbah Medis

Sebelum membahas mengenai kesiapan indonesia menghadapi limbah medis virus corona, mari kita terlebih dahulu membahas apa itu limbah medis dan termasuk golongan limbah apa.

Limbah medis  merupakan limbah atau sisa sisa dari segala kegiatan medis, sehingga ia memiliki kandungan infeksius ( atau bahan yang berpotensi infeksius).

Perlu diketahui bahwa limbah medis termasuk kedalam limbah B3, hal ini dikarenakan limbah medis memiliki sifat infeksius atau berpotensi infeksius sehingga perlu dilakukan penanganan khusus terhadap limbah tersebut. Peraturan mengenai limbah medis sudah tertuang dalam permen LHK no 56 tahun 2015. Tentang tata cara dan persyaratan teknis Pengolahan Limbah B3 dari FASYANKES (Fasilitas Pelayanan Kesehatan)

adapun untuk contoh dari Limbah padat Medis B3 terangkum dalam tabel dibawah ini

perlu diketahui bahwa limbah domestik dari pasien ODP maupun PDP  virus corona termasuk kedalam limbah B3, karena memiliki potensi infeksius.

Pengelolaan Limbah Medis

Setelah mengetahui mengenai limbah medis, selanjutnya adalah cara pengolahan limbah medis. Pengelolaan limbah medis tergantung dari jenis limbahnya. Untuk Limbah Padatnya tahapan akhirnya adalah dengan pemusnahan melalui insenerator ( di musnahkan dalam suhu 800 derajat celcius), atau pada beberapa limbah dapat dilakukan desinfektan dan pembunuhan virus dengan microwave / autoclave

Pengelolaan Limbah Medis  (Air Limbah )

Pengelolaan Limbah Medis (Padat)

 

 

 

Kesiapan Indonesia  akan Limbah Medis COVID -19

 

Dari data diatas dapat diketahui bahwa penyebaran perusahaan pengolahan limbah B3 Medis tidak merata,terutama dibagian wilayah indonesia timur. Kapasitas pengolahan dengan timbulan limbah mengalami selisih 70,432 ton/hari. Dimana data ini merupakan data sebelum terjadi pandemi virus corona. Padahal saat pandemi virus corona limbah medis terutama APD dan masker mengalami peningkatan. Jika berdasarkan data tersebut dapat dikatakan indonesia kurang siap dalam menghadapi limbah medis B3 virus corona, dimana selisih daya tampung dan pengolahannya masih jauh.

Perlu diketahui selain faktor teknis, pengolahan Limbah B3 medis sendiri terkendala oleh Peraturan yang ada seperti pengolahan limbah B3 medis hanya boleh menggunakan insenerator. Padahal pengolahan menggunakan insenerator sendiri memerlukan biaya yang besar dan belum lagi dampak lingkungan yang dihasilkan. padahal ada cara lain yang dapat dilakukan dengan hemat biaya dan ramah lingkungan, salah satunya adalah dengan menggunakan microwave dan autoclaf.

Virus corona atau covid-19 sendiri merupakan virus yang mudah untuk dimusnahkan dengan suhu 100 derajat celcius saja virus sudah terbunuh. Sehingga seharusnya tidak harus menggunakan insenerator untuk pengolahan limbah medis B3 Virus corona. Dengan menggunakan autoclaf maupun microwave beberapa APD seperti safety boot dan googles dapat didaur ulang.

Sebaiknya pemerintah mengkaji ulang mengenai peraturan yang ada mengingat hal ini sangat dikeluhkan oleh RS maupun perusahan pengolahan dimana untuk izin dari pengolahannya sangat lama dan susah.

Sumber :

Dir Kesling Kemenkes

SE MenLHK 2 2020 (Pengelolaan Limbah Infeksius dan Sampah Rumah Tangga dari Penangananan Corona Desease – Covid 19)

Webinar IATL ITB

 

Be the first to comment

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*