Pencabutan FABA (Fly Ash & Bottom Ash) Dari Daftar Limbah B3

Melansir dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Presiden Joko Widodo menghapus limbah batubara hasil pembakaran yaitu Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari kategori Limbah Bahan Berbahaya Beracun (Limbah B3). Hal ini tertuang dalam peraturan turunan UU Cipta Kerja yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selama ini limbah batu bara hasil pembakaran yaitu FABA masuk ke dalam kategori membahayakan karena batu bara mengandung berbahai jenis unsur racun termasuk logam berat dan radioaktif.

Fly Ash

Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) adalah limbah padat hasil pembakaran batu bara pada fasilitas pembangkit listrik tenaga uap di PLTU, boiler, dan tungku industri. Abu terbang (fly ash) adalah salah satu residu yang dihasilkan dalam pembakaran dan terdiri dari partikel-partikel halus, sedangkan abu yang tidak naik disebut (bottom ash).

Kebijakan pemerintah yang mengeluarkan abu terbang dan abu dasar (fly ash & bottom ash disingkat FABA) dari daftar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) menuai kontroversi. Kelompok pemerhati lingkungan mengeluhkan kebijakan tersebut yang tidak berpihak terhadap perlindungan lingkungan. Sementara dilain sisi pelaku usaha mengapresiasi penerbitan PP 22 Tahun 2021 meskipun hanya berlaku bagi FABA yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sehingga bagi industri penghasil FABA non-PLTU yang umumnya menggunakan tungku industri, FABA yang dihasilkan masih dikategorikan sebagai Limbah B3.

FABA dapat dimanfaatkan sebagai campuran substitusi industri lain termasuk digunakan dalam pembangunan infrastruktur dan dapat diolah menjadi produk lain yang bermanfaat seperti genteng, paving block, dll. Namun jika FABA dikategorikan sebagai Limbah B3, maka perusahaan/industri penghasil FABA harus mematuhi kewajiban pengelolaan Limbah B3 sebagaimana yang diatur di dalam PP No. 101 Tahun 2014. Tahapan kewajiban pengelolaan FABA yang dikategorikan sebagai Limbah B3 tersebut sangat menyulitkan perusahaan dalam menyiapkan dokumen yang cukup banyak dan melewati prosedur permohonan perizinan yang kompleks dan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pelaku usaha mengeluhkan kendala dilapangan yang mengakibatkan pengelolaan FABA menjadi tidak berlangsung secara efisien dan efektif serta menambah beban biaya secara signifikan (apbi-icma.org).

Sementara itu, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menyayangkan kebijakan tersebut. Dihapusnya FABA dari daftar limbah B3 adalah keputusan bermasalah dan berbahaya. Batubara mengandung berbagai jenis unsur racun termasuk logam berat dan radioaktif. Ketika batubara dibakar di pembangkit listrik, maka unsur beracun ini terkonsentrasi pada hasil pembakarannya yakni abu terbang dan abu padat (FABA). Ketika FABA berinteraksi dengan air, unsur beracun tersebut dapat terlindikan secara perlahan, termasuk arsenic, boron, cadmium, hexavalent kromium, timbal, merkuri, radium, selenium, dan thallium ke badan lingkungan.

Melansir dari Mongabay Situs Berita Lingkungan, mengenai cerita warga terdampak debu batubara di tengah kebijakan limbah FABA menjadi limbah non B3. Warga Dusun Lambolo, Desa Ganda Ganda, Petasia, Morowali Utara, Sulawesi Tengah mengeluh perihal kualitas udara menjadi buruk, serta nelayan Desa Ganda Ganda pun mulai kesulitan mencari ikan karena laut tercemar.

Hal tersebut juga dialami oleh warga Suralaya, Banten yang hidup berdampingan dengan PLTU batubara. Pada akhir Februari 2021, sekitar 30 menit terjadi hujan abu tebal yang mengotori udara lingkungan yang dikarenakan ada kerusakan pada cerobong PLTU Suralaya. Warga Suralaya menanggung akibat berupa menderita sakit paru-paru.

Pengeluaran limbah batu bara jenis fly ash dan bottom ash dari daftar limbah B3 menuai sejumlah pro-kontra di kalangan masyarakat. Sebagian pihak secara vokal menyuarakan bahwa penghapusan kedua jenis limbah itu dari daftar limbah B3 justru akan berdampak kontraproduktif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat yang tinggal di dekat area PLTU. Di sisi lain, sebagian pihak lainnya mengatakan bahwa fly ash dan bottom ash tidak hanya membawa dampak negatif saja, karena kedua jenis limbah itu juga bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai, seperti paving block.

Jadi bagaimana menurut kalian tepat atau tidak kah keputusan tersebut?

Sumber :

apbi-icma.org

http://www.apbi-icma.org/news/4649/kontroversi-isu-faba-sebagai-limbah-non-b3

mongabay.co.id

walhi.or.id

https://www.walhi.or.id/presiden-jokowi-kembali-menggadaikan-keselamatan-warga-dengan-menghapus-faba-dari-limbah-b3

Be the first to comment

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*